Tantangan bank di era digital berhadapan dengan fintech

Disusun oleh : Poppy amarita wardatul jannah

Artikel tentang keuangan: Tantangan bank di era digital berhadapan dengan fintech

Sektor perbankan baik nasional maupun dunia kini sudah memasuki era digitalisasi. Mulai dari layanan bank tanpa kantor hingga transaksi menggunakan e-channel yang sudah biasa dilakukan.
Wakil ketua dewan komisioner OJK Nurhaida menjelaskan dalam beberapa waktu ke depan ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi oleh perbankan di dunia. Karena itu, kata Nurhaida, bank harus menyesuaikan diri dan bertransformasi agar tetap bisa menarik pelanggan atau nasabahnya.
"Bank harus bertransformasi di era digitalisasi ini. Jika tidak, maka bank akan ketinggalan dan muncul bank-bank lain dengan proses digital," ujar Nurhaida dalam seminar Disruption and Banking for the future, di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (5/2/2019).
Nurhaida menjelaskan, bank konvensional juga harus melakukan inovasi dalam sektor keuangan. Hal ini agar bank konvensional bisa tetap menjaga bisnis yang bersifat umum seperti menabung hingga transaksi pembayaran.
- Berkembangnya teknologi membuat industri perbankan harus bertransformasi. Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Antonius Hari mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi tantangan perbankan menuju digital banking.
Pertama, perubahan pola konsumsi dan keinginan masyarakat yang menginginkan sesuatu yang mudah cepat.
“Ada perubahan pola perilaku masyarakat dalam memanfaatkan layanan dari lembaga jasa keuangan (LJK),” ujar Antonius di Bogor, Sabtu (20/10/208).
Kedua, menjamurnya teknologi finansial (fintech) baik untuk pembayaran maupun pendanaan atau peer-to-peer (P2P) lending.  Yang mana nilai transaksinya dari tahun 2016 ke tahun 2017 saja sudah meningkat 24,6 persen atau dari Rp 15,6 miliar menjadi Rp 18,6 miliar.
Selama 10 tahun terakhir, digital banking atau perbankan digital menunjukkan peningkatan yang sangat tajam. Jauh lebih tajam dari dekade-dekade sebelumnya.
Hal itu ditandai dengan munculnya produk-produk perbankan berbasis digital. Dimulai dari mobile banking, digital money atau electronic money, cashless transaction melalui QR Code, transaksi berbasis biometric dan transaksi berbasis blockchain.
Pesatnya perkembangan teknologi digital perbankan menjadi tantangan baru. Industri perbankan dihadapkan pada dua pilihan: ikut mengadopsi teknologi digital agar bank bertahan “hidup” atau tetap konvensional, namun perlahan-lahan “gugur”.
Bank perlu terus meningkatkan pelayanan nasabah melalui transformasi digital. Namun, transformasi tersebut juga harus jeli dan tepat sesuai kebutuhan pasar. Misalnya, perbankan sebaiknya fokus mengembangkan dan melengkapi berbagai fitur untuk mobile banking kepada nasabah individual daripada internet banking.
Hal ini karena, selain pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia yang meningkat pesat setiap tahunnya, karakter masyarakat, khususnya masyarakat milenial saat ini cenderung lebih memilih layanan perbankan yang memberikan kemudahan dan kecepatan bertransaksi setiap saat dan dimana saja.
Selain itu, masyarakat milenial pun tidak terlalu tertarik dengan persaingan suku bunga. Persaingan suku bunga hanya akan mengakibatkan net interest margin atau NIM rendah karena bank perlu membayar cost of fund yang lebih tinggi, sedangkan lending rate yang lebih rendah untuk menggaet nasabah.
Lebih lanjut, kesan transformasi digital banking memerlukan investasi yang sangat besar perlu dikaji ulang. Implementasi digital banking seharusnya dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan masing-masing bank.
Investasi delivery channels untuk digital banking, misalnya transaksi berbasis biometric, mobile banking, internet banking, cardless ATM dan QR Code yang tepat sasaran justru akan menghemat biaya operasional bank sekaligus memitigasi resiko operasional bank
Penyediaan fasilitas transaksi digital banking yang lengkap akan mengurangi kegiatan operasional kantor bank. Bank bisa menghemat biaya operasional karena bank tidak perlu membayar biaya untuk transaksi melalui internet. Biaya internet, smartphone dan personal computer (PC) ditanggung sepenuhnya oleh nasabah.
Perbankan nasional tengah bergelut menghadapi ketatnya persaingan di era digitalisasi seiring pesatnya perkembangan teknologi.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional Kartika Wirjoatmodjo mengatakan sektor perbankan perlu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tersebut. Disamping itu, perbankan juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan pada regulasi serta mengelola risiko.
Tiko, sapaan akrab Kartika juga menyinggung bahwa tiap bank harus melakukan kolaborasi agar tidak ketinggalan dengan pasar. Apalagi, saat ini bank bukan hanya bersaing satu sama lain, kedatangan perusahaan teknologi finansial (Tekfin) juga menjadi pesaing baru di dalam bisnis keuangan.
Ada dua tantangan penting yang harus dijawab oleh seluruh pelaku bisnis perbankan. Pertama dari sisi internal. Berbeda dengan Tekfin, perbankan cenderung memiliki struktur organisasi dengan standar operasional prosedur dan manajemen risiko yang sangat ketat. "Ini memang menjadi tantangan di dalam membangun kecepatan beradaptasi dengan hadirnya teknologi finansial," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/11).
Hadirnya teknologi informasi dan komunikasi memang memungkinkan aktivitas ekonomi dilakukan lebih fleksibel. Namun demikian, ekonomi digital tetap menjadi tantangan karena sifatnya yang rumit, terutama dari sisi keamanan.

Komentar

Postingan Populer